Menyimak Mahabarata dan Ramayana “Versi Asli”
Saya baru saja selesai membaca buku Mahabharata dan Ramayana versi
India. Dua buku ini karangan C. Rajagopalchari dan di halaman muka
ditulisi “Edisi Asli”.
Sebenarnya sudah agak lama saya ingin membeli dua buku itu. Namun desain
covernya yang “India banget” membuat saya tidak nyaman. Nah, pekan lalu
ada diskon sampai 40% dan saya kebetulan lagi cuti agak panjang, jadi
saya beli. Masing-masing buku seharga Rp30.000.
Pertama-tama saya membeli buku Mahabharata dan saya baca sampai selesai.
Setelah itu, karena merasa cara bercecitanya menarik, saya membeli yang
Ramayana. Sampai selesai membaca dua buku itu, saya tidak mengerti apa
yang dimaksud dengan klaim “edisi asli” dalam covernya.
Ini sebenarnya bukan terjemahan karya kuno Walmiki dan Wiyasa, atau
pujangga lain pada masa yang lalu. Ini adalah karya pada dekade 1950-an
yang ditulis Rajagopalchari untuk generasi muda India. Mungkin yang
dimaksud asli adalah asli India, bukan asli terjemahan dari edisi kuno.
Tentu saja semua basisnya adalah karya Walmiki (Ramayana) dan Wiyasa
(Mahabharata). Baik Walmiki maupun Wiyasa pada dasarnya bukan sepenuhnya
pengarang cerita itu, melainkan orang yang mengumpulkan cerita itu
sehingga dapat dirampaikan kepada generasi di bawahnya secara lebih
sistematis.
Ada banyak versi Mahabharata dan Ramayana yang berkembang di India.
Enaknya, dalam buku ini Rajagopalchari memberikan penjelasan mengenai
adanya perbedaan versi. Sebagai contoh, dia menyebut versi Walmiki
menjelaskan cerita bagian ini begini, sedangkan versi lain (misalnya
versi Kamban) menyebut begitu.
Bahkan kadangkala Rajagopalchari menyebutkan contoh-contoh cerita
kekinian (misalnya serangan Jepang ke pearl Harbour) yang dianggapnya
relevan untuk menjelaskan mengapa tokoh-tokoh dalam ceritanya mengambil
keputusan beini atau begitu.
***
Saya adalah penggemar wayang Jawa yang kisahnya sebagian besar diambil
dengan latar belakang Mahabarata serta Ramayana. Namun membaca dua buku
ini tidak seperti membaca cerita wayang.
Ini lebih mirip membaca mitologi Yunani atau terjemahan Kalilah wa
Dimnah. Untungnya, waktu kecil saya pernah membaca cerita Mahabharata
yang ditulis oleh Padmosukoco dan dimuat bersambung selama beberapa
tahun oleh Majalah Bahasa Jawa Jayabaya. Cerita Padmosukoco itu mirip
dengan versi India.
Ada beberapa perbedaan antara cerita Mahabarata versi India ini dengan
Mahabharata versi wayang Jawa. Tokoh punakawan seperti Semar Gareng
Petruk Bagong jelas tidak ada dalam versi India. Begitu pula dengan
Togok, Batara Guru serta Sanghyang Wenang. Namun tokoh Batara Indra,
Wisnu, Brahma, Bayu dan sebagainya, ada dalam versi India.
Dalam wayang Jawa, gandarwa, yaksa, serta raksasa dianggap sama. Dalam cerita India, itu adalah kelompok makhluk yang berbeda.
Dalam cerita Jawa, Pandu adalah anak Abiyasa dan cucu Palasara. Dalam
versi India, Pandu adalah cucu Santanu dan keponakan Bhisma. Dalam
wayang Jawa, saya merasa tidak pernah jelas bagaimana bubungan antara
Bhisma dengan Abiyasa, serta hubungan Palasara dengan Santanu.
Adapun uraian untuk perang Barata Yudha yang berlangsung selama 18 hari
versi India terasa amat bertele-tele. Lebih menarik cerita versi wayang
Jawa yang menjelaskan siapa yang mati pada hari pertama, hari kedua, dst
secara lebih efisien.
***
Saya kira Ramayana versi Rajagopalchari ini sudah diringkas dari versi
panjang. Soalnya, tidak ada cerita mengenai Arjuna Sasrabahu, Sumantri,
Sukrasana. Juga soal Wisrawa dan Danaraja. Cerita mengenai Parasurama
juga hanya dalam konteks pertemuannya dengan Rama.
Cerita Ramayana dalam buku ini langsung dimulai saat kelahiran Rama
bersaudara dan kisruh berpangkal dari pewarisan tahta yang gagal dari
Dasarata ke Rama.
Menariknya, pengarang cerita ini mencoba memberikan penjelasan mengenai
hal-hal kontroversial menyangkut kepahlawanan Rama. Banyak buku—terutama
yang kemudian menyebut Rahwana sebagai pahlawan—mempertanyakan
kejanggalan sikap Rama.
Hal yang paling menonjol adalah bagaimana Rama dan Lesmana,
memperlakukan Sarpanaka, adik perempuan Rahwana, yang jatuh hati kepada
Lesmana namun justru diejek dan diperlakukan dengan menyedihkan.
Hal lainnya adalah keputusan Rama untuk membunuh Subali dengan cara
membidikkan panah dari belakang ketika Subali sedang berperang-tanding
melawan adiknya, Sugriwa. Ini dianggap sikap yang tidak ksatria.
Kontroversi lainnya soal sikap Rama terhadap Sinta setelah menang perang
melawan pasukan Rahwana. Dengan kejam Rama mempertanyakan kesucian
Sinta yang direspons Sinta membakar diri (dalam versi lain disebut
diasingkan ke hutan). Nah, Rajagopalchari mencoba menjelaskan berbagai
hal tadi dari sudut pandang Rama. Dia memberikan alasan-alasan yang bisa
mematahkan argumen ang menyalahkan Rama.
Sumber: http://inspirana.blogspot.com/2013/01/menyimak-mahabarata-dan-ramayana-versi.html

Komentar
Posting Komentar