Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2014

Pramoedya Ananta Toer

      Puisi Pramoedya Ananta Toer PUISI UNTUK AYAH Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh (Gadis Pantai. hal. 269) Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah Pulang ke teduh matamu Berenang di kolam yang kau beri nama rindu Aku, ingin kembali Pulang menghitung buah mangga yang ranum di halaman Memetik tomat di belakang rumah nenek. Tapi jalanan yang jauh, cita-cita yang panjang tak mengizinkanku, Mereka selalu mengetuk daun pintu saat aku tertidur Menggaruk-garuk bantal saat aku bermimpi Aku ingin kembali ke rumah, Ayah Tapi nasib memanggilku Seekor kuda sembrani datang, menculikku dari alam mimpi Membawaku terbang melintasi waktu dan dimensi kata-kata Aku menyebut pulang, tapi ia selalu menolaknya Aku menyebut rumah, tapi ia bilang tak pernah ada rumah Aku sebut kampung halaman, ia bilang kampung halaman tak pernah ada Maka aku menungganginya Maka aku menungganginya Menyusuri hutan-hutan jati Melihat rumput-rum...

Sajak Pesan Pencopet Kepada Pacarnya

Sajak Pesan Pencopet Kepada Pacarnya – WS Rendra PUISI PESAN PENCOPET KEPADA PACARNYA – RENDRA Sitti, kini aku makin ngerti keadaanmu Tak ‘kan lagi aku membujukmu untuk nikah padaku dan lari dari lelaki yang miaramu Nasibmu sudah lumayan Dari babu dari selir kepala jawatan Apalagi? Nikah padaku merusak keberuntungan Masa depanku terang repot Sebagai copet nasibku untung-untungan Ini bukan ngesah Tapi aku memang bukan bapak yang baik untuk bayi yang lagi kau kandung Cintamu padaku tak pernah kusangsikan Tapi cinta cuma nomor dua Nomor satu carilah keslametan Hati kita mesti ikhlas berjuang untuk masa depan anakmu Janganlah tangguh-tangguh menipu lelakimu Kuraslah hartanya Supaya hidupmu nanti sentosa Sebagai kepala jawatan lelakimu normal suka disogok dan suka korupsi Bila ia ganti kau tipu itu sudah jamaknya Maling menipu maling itu biasa Lagi pula di masyarakat maling kehormatan cuma gincu Yang utama kelicinan Nomor dua keberanian Nomor tiga k...

Rupa-Rupa Manungsa

  Rupa-Rupa Manungsa (Cerkak karipta dening Eki Putranto Wibowo) Preinan isuk iku aku lagi mbukak warung, terus resik-resik. Gang sediluk, ono Mbah-mbah areptuku, clingak-clinguk clingak-clinguk, banjur tak takoni.             “Pados punopo mbah?”             “Le......!!! Tuku udut le.......!!!”             “Sesse nopo nggeh Mbah?” Takonku.             “Biasa....... Layar Mas loro le......!!” Jawabe.             Aku terus njupukke rokok Layar Mas loro, terus tak wehke Simbah mau. Banjur tak wehke aku terus diwenehi duwit rongewu anyar gris sisan,terus duwit iku tak lebokke slorokan warung. Tak ingat-ingeti Mbah iku ra ndang...

Gema Penyejuk Hati

Gema Penyejuk Hati Karya: Eki Putranto Wibowo Gema itu terdengar lagi Menyibak tabir gelap yang membelenggu hati Hati ini serasa b ergetar oleh alunan gema yang berkumandang Cengkokan itu membuat bulu kuduk ini merinding Kaki ini seraya ingin melangkah ke depan Menuju sumber gema haluan Kuturuti langkah ini Makin ke depan makin keras suara ini Makin bergetar hati ini Makin merinding seluruh tubuh ini Makin … makin … dan makin … Semakin aku menuruti langkah ini Semakin selalu ingin kusebut nama-Mu Terima kasih Ya Allah …

Malam Negeri Dongeng

Malam Negeri Dongeng Karya: Eki Putranto Wibowo Mentari tergelincir ke ufuk barat Sinar senja meredup kelam memanjat Malam kelam tiba Secangkir kopi menemaniku bersua Kepulan asap menerpa wajahku Piring-piring dan botol-botol dewa bergeletakkan di hadapanku Kupetik senar gitar Jemariku menari tak benar Kutonton gambar bergerak Hah … ternyata hanya dongengan para penjahat negeri tak berotak Negeri ini negeri dongeng, say a ng Negeri kancil yang terbuang Kualihkan pandangan pada dedaunan yang melambai Dan jemariku tetap menari, amboi 28 Oktober 2014

Sajak untuk Ibu

Sajak untuk Ibu Karya: Eki Putranto Wibowo Kasihmu sejukkan hatiku Letih dan sukarmu selalu kau , Tutupi o leh aura suci yang menghiasimu Jadikanku ceria slalu tuk hari ini dan nanti, Ibu Biarpun kisut membelenggu wajahmu Biarpun rambutmu beruban dan berkutu Biarpun tubuhmu rapuh pilu Bumi dan langit tak kan sanggup membalas ketulusanmu, Kau adalah Surga terindah yang slalu memelukku, menghangatkanku Biarpun kita jauh, tapi   pelukan dan hangatan itu slalu ada untukku Usiaku yang kian memacu Di hari-hari berdebu Oh Ibu … Maafkanlah anakmu Kata yang slalu kuingin ucapkan padamu Aku Sayang Padamu Ibu …