Langsung ke konten utama

Parman, Parmin, dan Parmo



Karya Eki PW


Pagi yang cerah dengan pepohonan jati yang gagah menjulang tinggi, dan kicauan burung-burung menambah asrinya desa terpencil tersebut. Semua warga tampak sedang menjalankan aktivitas kesehariannya masing-masing. Ada yang menyapu halaman, ada yang mengambil air dari sendang, ada yang mencari kayu ke hutan, dan lain sebagainya.
Tampak tiga anak muda bersaudara itu sedang berjalan-jalan entah kemana tujuan mereka. Para warga sering memanggil mereka Parman, Parmin, dan Parmo. Mereka masuk ke tengah hutan yang sebenarnya terlarang di desa tersebut dan boleh masuk apabila telah meminta izin kepada sesepuh desa, tetapi sebagai pemuda yang pemberani mereka tak menghiraukan larangan tersebut. Mereka melihat ada kakek-kakek yang setiap hari selalu membersihkan sendangdan kuburan sakral meski tak dapat bayaran, tiga bersaudara itupun iseng bertanya. Dan katanya dahulu sendang tersebut sangat deras sumbernya sampai tumpah ke tanah lagi, lalu tiba-tiba ada anjing yang mati misterius di dalam sendang dengan luka di leher seperti digigit drakula jika di film-film barat. Otomatis para warga yang menggantungkan air kepada sendang tersebut segera menguras air di dalam sendang. Setelah dikuras habis ternyata esok harinya, esok harinya lagi, dan hari-hari seterusnya ternyata sendang tersebut tak bersumber lagi.
Tiba-tiba ditemukan ada mayat tergeletak di samping sendang yang matinya juga misterius seperti kematian anjing sebelumnya. Para warga pun menjadi takut. Tiba-tiba ada seorang warga yang datang dan mengaku telah bermimpi bertemu dengan danyang si penunggu sendang tersebut. Ia disuruh untuk menjaga dan merawat sendang di tengah hutan tersebut dan warga dilarang masuk sebelum mendapat izin dari sesepuh desa, jika melanggar maka nasibnya akan sama dengan si mayat tersebut. Beberapa menit kemudian tiba-tiba sendang tersebut bersumber lagi dan para warga percaya akan yang dikatakan oleh orang tersebut. Hingga sampai sekarang orang tersebut masih setia dengan pekerjaannya itu.
Mendengar cerita dari sang kakek tersebut mereka pun tertawa terbahak-bahak. “Hahaha ... hari gini masih percaya gitu-gituan ya gak banget lah yaw ...” Si kakek membisikkan mereka, “hati-hatilah kalian!!!” Tiba-tiba si kakek menghilang entah kemana.
“Eh Man ... Min ... kakeknya kok gak ada ya? Wah jangan-jangan bener apa kata kakek itu, takut aku Man ...” Ujar si Parmo yang mendadak ketakutan. Rasa gelisah pun tiba-tiba mendadak menyelimuti mereka, dari yang angkuh tiba-tiba meleleh juga kejantanan mereka.
Mereka hendak pulang keluar hutan tersebut, tetapi jalan keluar pun menjadi hilang.Mereka malah tiba di sendang itu lagi. Berkali-kali mereka mencoba keluar dan berkali-kali mereka tiba di sendang itu lagi. Detak jantung mereka pun berdetak lebih kencang dari biasanya, keringat pun mengucur deras sampai membasahi baju dan celana mereka.
Malam pun tiba, suasana pun mencekam. Mereka duduk di pinggir sendang itu dengan hati yang gundah gulana. Tiba-tiba ada bola api yang terbang dan menyala-nyala mengitari mereka, yang biasa warga menyebutnya banaspati. Si Parmo pun tambah merengek,”Makee ... ini gimana Makee ... saya takut, ya Allah ... tolong kami ya Allah .... haaa ... haaa ...” Tiba-tiba dari belakang mereka sesosok setannirrojim mengangkat mereka dan menceburkan mereka ke dalam sendang. Sontak mereka pun kaget dan terbangunlah mereka bertiga dengan pakaian dan kasur yang basah kuyub karena diguyur oleh Emak mereka yang kesal sudah siang gak bangun-bangun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pramoedya Ananta Toer

      Puisi Pramoedya Ananta Toer PUISI UNTUK AYAH Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh (Gadis Pantai. hal. 269) Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah Pulang ke teduh matamu Berenang di kolam yang kau beri nama rindu Aku, ingin kembali Pulang menghitung buah mangga yang ranum di halaman Memetik tomat di belakang rumah nenek. Tapi jalanan yang jauh, cita-cita yang panjang tak mengizinkanku, Mereka selalu mengetuk daun pintu saat aku tertidur Menggaruk-garuk bantal saat aku bermimpi Aku ingin kembali ke rumah, Ayah Tapi nasib memanggilku Seekor kuda sembrani datang, menculikku dari alam mimpi Membawaku terbang melintasi waktu dan dimensi kata-kata Aku menyebut pulang, tapi ia selalu menolaknya Aku menyebut rumah, tapi ia bilang tak pernah ada rumah Aku sebut kampung halaman, ia bilang kampung halaman tak pernah ada Maka aku menungganginya Maka aku menungganginya Menyusuri hutan-hutan jati Melihat rumput-rum...

SAMINISME

                 

Media Menulis Teks Negosiasi