Karya : Eki PW

Pembunuhan
bukanlah sekadar
ide, dia mengambil bentuk dan ruang.
Di suatu gedung apartemen bertingkat
misterius dua orang asyik berdiskusi tentang suatu hal yang menyenangkan, bagi
mereka. Perdiskusian mereka tiba-tiba terhenti sejenak oleh suara ketukan kaki
seseorang yang menghampiri mereka, benar saja itu adalah si Stevan karib mereka
yang telah lama tak bertemu.
“Hai Stevan terlalu lama kita tak
bertemu Stevan. Hahaha ….”, kata Boria yang meluapkan rasa rindunya pada
kawannya itu.
“Tiga tahun Stevan … tiga tahun kita
tak bertemu, dan sekarang … hahaha ….”, kata Dora si gadis dalam ruangan itu.
“Hmmh … ya memang sudah lama kita
tak bertemu, setelah aku dipenjara dan sekarang telah menghirup udara bebas.”
Ucap Stevan sedikit angkuh.
Setelah mereka berbincang-bincang
tentang kerinduan, Stevanpun berpaling dari perbincangan itu dan melanjutkan
dengan perbincangan yang lain, yaitu aksi teror yang akan diluncurkan. Stevan
bertanya-tanya tentang seberapa siap persiapan mereka untuk beraksi.
Sedang serius-seriusnya berbincang
tiba-tiba “dok … dok … dok …” suara orang mengetuk pintu dengan keras.
Dibukakan oleh Dora, muncullah Voinov yang grusa-grusu
nylonong ke meja Boria dan segera memberikan peta instruksi strategi jalannya
aksi mereka besok.
Tiba-tiba muncullah Yanex anggota
baru yang masih asing bagi Stevan. Yanex lapor kepada Boria bahwa ia sudah
mengamati kereta si Bangsawan yang akan menjadi sasaran mereka. Yanex sangat
senang karena sebentar lagi mereka akan merasakan kemerdekaan yang tak ternilai
harganya.
Keesokan harinya semua anggota telah
siap dengan segala strategi yang telah dirancang dengan matang. Dora telah
mempersiapkan bom yang akan dibawa oleh Yanex. Satu persatu dari mereka keluar
dan berpencar. Tinggal Boria dan Dora yang menunggu di gedung itu dengan tubuh
tak bisa diam, kaki yang mengajak ke sana ke mari dan tangan yang slawean tak terkontrol. Sesekali mata
melotot ke arah jendela untuk memastikan keadaan.
Tiba-tiba suara ketukan-ketukan kaki
kuda terdengar.
“Nah, itu pasti keretanya”, ucap
Boria agak gembira.
Suara itu kian keras mendekat,
mendekat, membuat Boria deg-degan senang. Dan suara yang ditunggu-tunggu tak
jua terdengar, suara kereta kuda makin jauh dan menghilang.
“Apa yang terjadi, apakah mereka
tertangkap? Tidak mungkin itu terjadi. Lantas ada apa?” Boria menggebrak meja
dan bertanya-tanya keheranan tentang kejadian itu.
Boria mondar-mandir ke sana ke mari
bingung dan marah-marah tak jelas. Dora pun menenangkannya. Muncullah Yanex
disusul Voinov dan Stevan dengan gugup dan ngos-ngosan. Semua bertanya-tanya
entah mengapa bisa gagal. Dan Yanex mengakui kesalahannya. Yanex tak tega
mengebom si Bangsawan Tiran itu, karena ia bersama dengan anak-anak yang
bergembira. Dan Yanex lalay karena larut dengan kegembiraan yang dirasakan oleh
anak-anak tersebut. Semua menyalahkan Yanex lebih-lebih si Stevan yang selalu
memojokkan mental Yanex.
“Semua diaamm … akulah yang salah
atas kegagalan ini, karena akulah pemimpin kalian. Semua jangan saling
menyalahkan! Kita atur lagi strategi untuk lain hari.” Teriak Boria sambil
menggebrak meja.
Tibalah saat-saat dimana semua telah
menunggu dan ditunggu-tunggu. Voinov tampak panik dengan dirinya. Tubuhnya
gemetaran, keringat meluncur deras dari dahinya. Voinov tiba-tiba menjadi
sangat takut dan ia juga sangat malu dengan ketakutannya. Ia tak mau
melemparkan bom, karena takut gagal, ia pamit kepada semua dan menyatakan rasa
cintanya kepada kawannya semua, semoga berhasil.
Waktu
telah tiba. Yanex bersama Boria yang akan melemparkan bom itu. Yanex berpamitan
kepada semua kawannya dan berkata “selamat tinggal”, seolah ia pasrah tak akan
berjumpa kembali.
Suara kereta kuda telah tiba dan
“DAARRR ……”. Suasana kota terhenyak seketika. Jalanan penuh ceceran darah dan
mayat-mayat yang bergelimpangan.
Yanex tertangkap Polisi dan
dipenjara. Ia tak menyesali perbuatannya, karena ia merasa benar telah membunuh
seorang penguasa tiran. Seharusnya yang menjadi penguasa bukanlah si Bangsawan
itu melainkan kemerdekaan yang sesungguhnya adalah milik rakyat. Di penjara
sebenarnya ada seseorang yang hendak membebaskan Yanex, tetapi ia tak mau. Ia
sudah siap membayar semua perbuatannya itu.
Dalam jeruji besi itu ia selalu
dibayang-bayangi oleh ruh istri Bangsawan. Mereka berbincang-bincang tentang
keadilan. Dan masing-masing dari mereka tetap kekeh dengan pendapatnya.
“Aku ingin mati”. Ucap Yanex.
“Apa? kau ingin mati? Apa kau gila? Tuhan
telah mengecapmu sebagai pembunuh, dan Dia yang akan mengadilimu.” Kata istri
bangsawan.
“Itu Tuhanku atau Tuhanmu?” kata
Yanex dengan ngotot.
“Tuhan Gereja … ya Tuhan Gereja”
“Apa urusannya Tuhan Gereja dengan
semua ini?”
Istri bangsawan menyuruh Yanex untuk
sembahyang, tetapi ia tak mau. Ia ingin ditolong tapi tak pernah mau. Ia adalah
orang yang suka menolong diri sendiri tanpa bantuan. Dan ruh itu akan meminta
ampun kepada Tuhan untuk Yanex.
Semua penghuni penjara dan Polisi
yang berjaga keheranan melihat tingkah laku Yanex yang berteriak-teriak tanpa
sebab. Dan ia sangat menanti-nanti hukuman gantungnya.
sumber gambar : http://sumutpos.co/wp-content/uploads/2013/12/Teroris.jpg
sumber gambar : http://sumutpos.co/wp-content/uploads/2013/12/Teroris.jpg
Komentar
Posting Komentar