Langsung ke konten utama

Kota Ranjau

Karya Eki PW




Yang betul belum tentu benar. Yang benar sudah pasti betul. Karena kebenaran bukanlah suatu kebetulan. Tetapi suatu kenyataan. Ah... apa lah yang sedang kupikirkan ini???
***
Sudah lama sekali nampaknya aku merantau. Sejak usia 20 tahun aku pamit pada Ibu dan Bapakku dan semua keluargaku untuk bekerja di Jakarta. Aku berjanji tidak akan pulang sebelum aku dapat membahagiakan mereka. Sekarang usiaku sudah kepala tiga, tetapi aku belum dapat apa-apa. Saat berkaca nampaknya aku beda dengan aku yang dulu, dari fisik maupun mental. Mungkin mereka akan pangling melihatku. Ah... apalah yang kupikirkan ini? Aku sudah tak punya siapa-siapa. Aku takkan berjumpa mereka lagi. Karena sebentar lagi tubuh yang kurus kering ini akan dililit kain suci hahaha.....
***
Suasana kereta yang tak menyeramkan dan minuman sirup ini membuatku nyenyak. Tiba di salah satu kereta di Jakarta aku terbangun dan sudah tak ada seorang pun penumpang yang tersisa, hanya ada beberapa petugas kebersihan di sini. Saat aku mulai bangkit dari tempat duduk aku merasakan ada keganjalan. Ya, benar saja mana tas ranselku? Di situ ada laptop dan berkas-berkas untuk ku mendaftar pekerjaan! Semua nama binatang keluar dari mulutku. Dompet, Handphone juga hilang dari sakuku. Segera kucekik petugas kebersihan yang ada di dekatku. Tiba-tiba semua petugas keamanan memisahkan dan membawaku ke kantor.
“He, anak muda! Siapa namamu?” Tanya seorang Kepala Keamanan stasiun.
“Nama saya Samin, Pak,” jawabku.
“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya seorang Kepala Keamanan stasiun.
“Sangat ada Pak! Ranselku hilang. Laptop, Ijazah, dan berkas-berkas penting ada di situ Pak. Dompet, Handphone, semua barang-barangku hilang Pak!” Jawabku dengan amarah dan kepanikan yang luar biasa.
“Apa kau mengenali ciri-ciri yang memaling barang-barangmu?
“Aku tak mengetahuinya Pak. Terakhir kali yang kuingat saat itu aku sedang duduk bersama seseorang berjaket dan berkacamata hitam, bertopi koboi, berkumis lalu aku diberi minuman dan aku pun tertidur Pak.”
“Waduh, itu berarti Anda dibius Nak!”
“La terus gimana Pak?!” Aku semakin panik.
“Apa kamu bisa menggambar?”
“Bisa Pak!”
Bapak tersebut lalu mengambilkan kertas dan pensil untukku. “Coba gambar di sini.”
“Baik Pak. ... Ini Pak sudah jadi.”
“Gambar apaan ini? Ini mah gambar gunung kembar, odong! Kamu saya suruh nggambar sketsa orang yang membiusmu, bocah!” Pak Kepala Keamanan agak emosi.
“O, iya iya Pak, maaf. ... Ini Pak”
“Waduh kok abstrak begini ya....” Pak Kepala Keamanan membolak-balikkan kertas dengan raut muka yang kusut. “Anak muda sepertinya saya belum bisa membantumu dengan maksimal. Nanti akan kulaporkan ke Kantor Polisi. Silakan kamu pergi dulu. Kapan-kapan ke sini lagi untuk mendapatkan kepastian ya. Ini ada rezeki tiga ratus ribu untuk bekalmu sementara di kota kejam ini, terimalah.”
“Emmhhh..... ya sudah Pak, terima kasih banyak.” Aku keluar ruangan dan berjalan terseok-seok.
Aku tak tahu ke mana akan pergi. Aku merasa umurku akan berhenti di kota ranjau ini. Semoga saja uang ini dapat memperpanjang umurku Ya Allah.
Alhamdulillah aku boleh menjadi takmir di Masjid At-Takwa. Aku bekerja dengan giat. Semua tetua sangat senang dengan hasil kerjaku.
Sebulan kemudian aku terlantar lagi di jalanan. Karena mungkin ada seseorang yang tak suka denganku sehingga aku difitnah menyelewengkan uang masjid. Kini diriku bercampur debu dan panasnya dunia ini. Aku bergaul dengan gepeng-gepeng. Aku baru tahu, ternyata pengemis-pengemis itu banyak yang kaya setelah aku main ke rumahnya. Biarpun mereka dapat kaya tapi aku tak mau ikut mereka. Aku juga berkawan dengan orang-orang gila, preman-preman, anak-anak punk, dan komunitas-komunitas lain yang terpinggirkan. Dari sini aku dapatkan betapa berharganya sebuah makna kehidupan yang sebenarnya. Hidup itu bukan hanya mencari kekayaan. Kekayaan memang segalanya kecuali kebahagiaan. Dan kebahagiaan hidup sebenarnya tidaklah mendapatkan kekayaan. Tetapi sebuah makna kebersamaan. Ketika kita dapat bersama, saling toleransi, saling menghargai keberbedaan, bebas berkreasi maka kebahagiaan akan mudah kita dapatkan.
Pernah suatu ketika itu aku sedang bermain sepak bola bersama anak-anak punk, ada seorang anak kecil yang terkena bola dan menangis memanggil ibunya. Aku pun mendekatinya dan menenangkan anak itu. Tiba-tiba ibunya datang langsung memeluk anaknya yang kecil itu dengan eratnya seolah tak mau kehilangan, begitu pun anaknya yang juga memeluk ibunya dengan manja. Mereka pun pulang. Tiba-tiba hatiku berdebar dan tubuhku pun ikut bergetar. Aku teringat oleh ibuku, bapakku, dan semua keluargaku. Mereka semua pasti merindukanku begitu pun aku yang merindukan mereka. Tapi apalah daya guna. Air mata yang sekian lama terpendam akhirnya keluar juga membasahi mataku. Mataku lalu kuusap dengan tangan yang kumuh ini. Segera ku bergabung dengan mereka lagi.
Malam hari kami bercerita tentang pengalaman masing-masing. Setelah mendengar cerita dari mereka ternyata tidak semua anak punk itu adalah anak buangan atau anak orang miskin dan aku baru tahu itu. Ada anak orang yang kaya, tetapi keluarganya tak pernah memperhatikannya, sehingga ia pergi dari rumah untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Ada juga yang ingin mendapatkan kebebasan, karena di rumah merasa terkekang. Ada juga yang ditelantarkan orang tuanya yang tak mau mengasuhnya karena bapaknya juga menelantarkan ibunya. Aku juga menceritakan tentang keluargaku di desa dan pengalamanku tentang kepolosanku saat tiba di Jakarta. Setelah mendengar ceritaku mereka memuji keluargaku yang sangat sayang kepadaku dan kasihan saat mendengar ceritaku saat tiba di Jakarta. Dan mereka menganggap itu biasa, karena di sini adalah kota ranjau siapa yang tak berhati-hati akan meledak, bahkan yang berhati-hati saja dapat meledak. Dan mereka juga menganggap aku beruntung, karena dengan begini aku dapat melihat dunia yang begitu luas dan berwarna-warni.
Bertahun-tahun aku bersama mereka, sesekali aku bekerja sebagai tukang bangunan, sesekali sebagai pemulung, pengamen, bekerja di bar, dan lain sebagainya. Hampir semua pekerjaan aku pernah merasakan kecuali menjadi ... pejabat. Saat aku mengamen tiba-tiba salah satu dari temanku berkata,”he, rumput hijau ... rumput hijau ...!” Teman-temanku lari terbirit-birit, aku pun ikut mereka lari sampai Pak Polisi kewalahan mengejarku. Ada salah satu temanku yang tertangkap dan berteriak mencoba melawan, tetapi apa daya ia dikepung banyak polisi, dijambak, ditendang. Melihat kawanku itu aku merasa amarah. Aku  pun masuk dalam lingkaran neraka tersebut mencoba menolong temanku. Beberapa polisi kena pukulan dan tendanganku, tetapi dua pukulanku dibalas dengan dua puluh pukulan bertubi-tubi sehingga aku pun terkapar dan langsung dibawa ke Dinas Sosial. Memang di sini kami dapat makan tetapi kami merasa tak bebas, diperkerjakan terus-menerus. Aku mempunyai taktik untuk keluar dari sini. Malam pun tiba aku dan beberapa temanku yang ingin kabur mengintai situasi dan kondisi di luar ruangan. Semua sepi, kosong. Aku mengambil kunci pintu keluar. Ternyata satpam tertidur pulas, nah, inilah kesempatan. Kunci pun terjatuh “krincing...” semua petugas terbangun dan mengejarku. Aku segera berlari dan membuka pintu keluar. Pintu pun dapat terbuka, aku bersama teman-teman keluar dan lari sejauh-jauhnya. Akhirnya kami sampai di tempat yang takkan terjangkau oleh polisi.
Sebenarnya jika aku ingin pulang bisa-bisa saja, tetapi karena janjiku yang akan menjadi orang sukses dan dapat membahagiakan kedua orang tuaku, apalah daya sekarang aku hanyalah seorang gelandangan, itulah yang mengurungkan niatku untuk pulang.
Malam pun tiba, Cemong mengajakku ke warung untuk ngopi. Tiba di tempat tersebut alangkah terkejutnya aku, semua pelayannya wanita cantik bertubuh seksi amat menggoda berahiku. Ketika wanita itu meletakkan kopi di depanku, “Ahai... amat montok buah dadanya, hahaha...” Seketika darahku naik mengahangatkan sekujur tubuhku. Nafsuku rasanya naik sembilan puluh persen.
“Gimana Min, asyik nggak?” tanya si Cemong merayu.
“Wah rasanya kayak di surga Mong. Hahaha....”
“Kamu gak ingin melampiaskan nafsumu? Uangmu kan lumayan. Bisa dipakai kencan Min. Tuh kamu lihat bodinya Min emh... mantapnye... apa lagi susunya Min... emh... mantapnye....”
Aku semakin tergoda sekali mendengar kata-kata Cemong. Tak pikir panjang aku langsung pesan kepada muncikari satu kamar untukku. Aku dipersilakan masuk. Saat di depan pintu, betapa bergetarnya hatiku ini, panas ketegangan ini menghangatkan tubuhku. Aku pun masuk dan seorang wanita cantik telah siap dengan pose erotis di atas kasur empuk. Ketika aku duduk di sampingnya bergetarlah seluruh jiwa ini. Rasanya seperti melayang. Saat kita bertatapan sepertinya aku tak asing dengan wajahnya. Andeng-andeng yang khas di kanan atas bibirnya.
“Mbak, kalau boleh kenal siapa namanya ya?” Tanyaku.
“Apa? Kau ingin mengenalku? Apa tidak kau sadar? Kau tahu tidak? Kau adalah lelaki pertama yang bicara begitu padaku. Biasanya lelaki yang datang padaku langsung membuka baju lalu menerkamku melampiaskan berahinya seperti binatang buas, melontang-lantingkan aku seenaknya sendiri. Hahaha lelaki ...” Ujar wanita itu.
“Ya aku sangat ingin mengenalmu.”
“Aku Fitri.”
“Fitriana Indrat? Dari Ngawi ya?” Tanyaku dengan penuh harap kepastian.
“Kok kamu tahu? Kamu siapa?”
“Aku Maikel Samin, Fit. Aku tahu dari andeng-andengmu yang khas dan bekas goresan luka di bibirmu saat kau dan aku terjatuh dari sepeda dulu Fit, waktu kita kecil. Mengapa kau bekerja begini Fit?”
Mendenger perkataanku, Fitri pun menangis dan langsung memelukku, meluapkan rasa rindunya padaku. Sampai-sampai air matanya membasahi bajuku.
“Keluargaku broken Min. Aku lari dari rumah ingin membuktikan bahwa aku dapat bahagia dan sukses tanpa bantuan orang tua. Tetapi setelah sampai di kota ini aku terjebak dalam lingkaran hitam Min.”
“Fit aku dari dulu sayang padamu. Aku tidak ingin kau seperti ini. Ayo kita pulang bersama.”
“Nasi sudah menjadi bubur Min. Aku sudah tidak dianggap oleh orang tuaku, apalagi kalaumereka tahu keadaanku seperti ini.”
“Ikut saja denganku Fit. Menikahlah denganku.”
“Aku juga sayang padamu Min. Tapi ... kini aku sudah jadi wanita hina Min. Aku sudah tidak suci lagi. Aku tak pantas menjadi istrimu.”
“Tak apa Fit. Aku terima kamu apa adanya. Please deh ... terima aku.”
“Tidak Min. Cepat pergi jauh dari pandanganku! Kalau tidak mau, aku yang pergi.” Fitri keluar kamar sambil menangis. Ia pergi ke belakang.
Aku pun keluar dan mengajak pulang Cemong. Sampai di kolong jembatan, kami berkumpul bersama teman-teman yang lain sambil gitaran dan bernyanyi bersama. Setelah puas, kami tidur dengan lelapnya.
Keesokan harinya aku pergi ke tempat yang tadi malam untuk bertemu Fitri. Setelah sampai di sana ternyata Fitri di kontrakannya. Aku segera menuju kontrakannya setelah kudapat alamatnya dari sang mucikari. Sesampai di tujuan, tiba-tiba ada wanita-wanita bergerombol mengerumuni kamar nomor 12. Aku segera masuk ke dalam gerombolan, dan alangkah terkejutnya melihat Fitri tergeletak dengan mulut berbusa. Teriakanku terasa mengguncang dunia, air mataku mengucur deras sambil memeluk tubuh Fitri. Polisi pun datang dan segera membawa mayat Fitri untuk diperiksa. Ternyata Fitri diracuni oleh seseorang. Kata teman akrabnya, Selly tadi malam Fitri pulang bersama Om Bemby. Dan dugaan Selly, Fitri diracuni oleh Om Bemby karena ia minta pertanggungjawaban setelah hamil tiga bulan. Amarahku pun semakin tak terhingga. Aku tanya semua teman Fitri tak ada yang tahu alamat Om Bemby. Aku marah tapi tak tahu akan berbuat apa. Aku tak menyangka ternyata tadi malam adalah pertemuan yang terakhirku dengan Fitri. Kota ini memang kejam. Sangat kejam.
Aku berjalan tanpa tujuan dengan wajah yang murung, kosong, lesu. Tiba-tiba si Cemong memnaggilku, “He, Min! Ngamen yuk ...!” aku hanya diam.
Keesokan harinya, aku pergi sendiri untuk mencari pekerjaan yang sekiranya menaikkan derajatku. Bermodal kemeja dan celana baru yang kubeli kemarin aku mencoba mencari pekerjaan kantoran. Tetapi apa daya aku tak mempunyai Ijazah, KTP-pun tak punya, berkali-kali aku ditolak, bahkan dicurigai sebagai orang jahat. Tiba di depan gedung besar bertingkat aku duduk untuk istirahat sejenak. Aku memandang ke sebelah kiri ada tulisan “Lowongan Pekerjaan untuk Siapapun”. Aku segera menuju alamatnya. Sesampai di tujuan, para bodyguard membukakan pintu untukku. Seseorang berjas dan berkacamata hitam duduk di kursi panas dengan kaki di meja ditemani kopi hangat di meja samping kakinya.
“He, anak muda apa keperluanmu?”
“Ya nyari pekerjaan toh Pak,” jawabku.
Lalu aku diberi kertas berisi nama pekerjaan dan tarif pendaftaran dan juga surat perjanjian. Hanya dengan uang bisa mendapat pekerjaan sesuai yang diinginkan tanpa Ijazah katanya. Sementara aku hanya ada uang celengan sekitar satu juta. Dan itu hanya jadi satpam kantor dengan bayaran dua juta per bulan katanya. Tak berpikir panjang aku memberinya uang satu juta dan disuruh menunggu seminggu.
Setelah seminggu lamanya aku datang lagi ke tempat yang dulu aku melamar pekerjaan. Tiba-tiba ada seseorang yang menjadi bulan-bulanan bodyguard dan lari terbirit-birit. Aku langsung masuk dan menagih janji si bos tersebut.
“Pagi Pak, saya ke sini siap untuk menjadi satpam sesuai perjanjian pekerjaan kemarin,” ujarku.
“Apa? Satpam? Hahaha... aku kan sudah punya bodyguard ngapain butuh satpam. Lagi pula badanmu cungkring, ngapain jadi satpam? Hahaha...” Ujarnya dengan angkuh.
“Loh, kata Bapak saya jadi satpam? Gimana sih?! La terus mana uangku?” Tanyaku ngotot.
“Dasar orang bodoh, uang yang sudah kau berikan ya gak bisa dikembalikan, dodol...!”
“Bapak ....emh... Bapak siapa nama Anda?
“Bemby”
“Ya sudah. Bapak Bemby yang ... apa? Bemby? Sepertinya aku tak asing mendengar kata-kata itu? Apakah Anda mengenal Fitri?” Tanyaku dengan penasaran dan amarah.
“Fitri? Ya aku mengenalnya, kenapa? Kau pacarnya? Hahaha... ya memang aku yang mempermainkan Fitri dan membunuhnya. Apa kau tak terima? He, bodyguardku cepat habisi bocah ini!”
Telingaku terasa panas merambat ke sekujur tubuhku. Badanku terasa tak terkontrol lagi. Sebelum bodygurd itu datang, sangkur pemberian preman yang selalu kukantongi telah merobek tenggorokan si bos bajingan ini. Dua bodyguard datang dari belakangku segera kucabik-cabik mereka. Semua dalam ruangan itu terkapar dengan ceceran darah di mana-mana. Aku pergi dengan santainya menuju kantor polisi dan lapor bahwa di tempat itu ada yang mati. Dan aku mengakui bahwa akulah pelakunya.
“He, anak muda mengapa kau berbuat demikian?” Tanya Pak Polisi.
“La aku ditipu kok Pak, bukan hanya saya saja tetapi banyak korbannya. Ada yang mati, ada pula yang masih hidup, tetapi mereka tak berani melapor. Takut dibunuh oleh bodyguardnya. Dan yang paling membuatku amarah Pak, si bajingan itu telah membunuh calon istri saya Pak.” Jawabku dengan melampiaskan kemarahanku.
“Tenang anak muda. Memang terkadang dunia ini membuat kita tersiksa. Tetapi jika kita tidak bisa mengontrol diri kita, maka akan semakin tersiksalah diri kita,” ujar Pak Polisi dengan bijak sambil memandang ke arah jendela dan menghisap sepuntung rokok.
“Tapi yang saya lakukan ini adalah kebenaran Pak. Kejahatan harus dibayar dengan kejahatan. Pembunuhan harus dibayar dengan pembunuhan!” Ujarku dengan ngotot.
“Begitu juga kau! ... Harus dibunuh!” Dengan cepat membalas perkataanku sambil menunjuk mukaku.
“Silakan saja. Sudah tak ada gunanya aku hidup. Hidupku penuh kebrutalan. Dan aku rindu dengan Sang Penciptaku.” Ujarku dengan santai.
Ternyata berita pembunuhan yang ku lakukan telah dimuat di media massa. Dan aku keceplosan memberitahu alamat rumahku, Ngawi. Untung saja aku hanya menyebutkan nama samaran, Sam Maik. Beberapa saat kemudian ada seorang gadis datang ke kantor Polisi hendak mencari seseorang.
            “Nama adik siapa?” Tanya Pak Polisi kepada gadis itu.
            “Ning, Pak.”
“ Ow, nama yang indah sekali. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Pak Polisi kepada gadis itu.
“Bisa pertemukan saya dengan narapidana yang dari Ngawi Pak. Yang baru saja kemarin ditangkap habis membunuh orang itu lho Pak...” jawab gadis itu dengan lugunya.
“Ow, ya ya bisa bisa ... dua puluh menit ya...” ujar Pak Polisi.
Aku lalu dipanggil oleh Pak Polisi untuk menemui gadis itu. Alangkah kagetnya aku, dia adalah Ning adikku. Mataku terasa berkaca, tubuh ini ingin memelukmu adikku sayang. Tapi tak mungkin kulakukan itu. Dengan langkah yang berat aku duduk di depannya dengan menahan gejolak hati. Untung saja aku berewokkan. Pasti Ning tak mengenaliku.
“Mas? Ini Mas Sam kan? Mas, aku rindu kepadamu mas. Ibu dan bapak sangat ingin kau kembali Mas. Ayo pulang.” Ning memelukku dengan erat dan berlinangan air mata. Aku pun merasakan kehangatan rindu yang mendalam saat Ning memelukku.
“Aku bukan Sam kakamu dik. Aku Sam Maik. Memangnya kakakmu namanya siapa? Tinggalnya di mana?” aku coba mengalihkan perhatiannya.
“Apa kamu bukan Sam kakakku. Nama kakakku Maikel Samin Mas. Jadi kakakku gak dipenjara dong, hore... tapi Mas tahu Masku ndak? Dia dari Ngawi Mas, katanya nyari kerja di Jakarta sini. Di mana Mas? Masku dimana? Apakah dia masih hidup?” Ning menggoyang-goyangkan badanku dengan perasaan yang cemas.
“Ya dik, aku tahu yang bernama Maikel Samin. Dia karibku dulu. Tenang saja dik kamu cukup mendoakannya saja semoga dia tenang di alam sana. Dia telah menjadi seorang pahlawan yang dikagumi di kota ini. Sampaikan kata-kata ini pada ibumu ya. Dia juga pernah bilang dia sangat cinta pada keluarganya dan sangat ingin membahagiakan keluarganya.”
“Apa? Jadi kakakku sudah meninggal? Di mana kuburannya? Bolehkah saya ke sana?”
“Jangan Dik. Kuburan itu terkhusus untuk kakakmu. Dia orang spesial. Kuburannya dijaga oleh petugas-petugas. Jadi kamu cukup mendoakan dari rumah saja ya ... ”
“Ow.. wah Mas Sam memang benar-benar orang hebat ya. Sampai-sampai ia dikagumi. Pasti ibu sangat gembira dengan berita ini. Makasih ya Mas”
“Ya Dik. Sampaikan salamku untuk ibumu ya....” ujarku menahan rasa sedih.
Ning meninggalkanku dengan bernyanyi lagu yang sering di nyanyikan waktu kecil bersamaku, “Pelangi indah di mata kakakku lalala ...”
Aku pun menyahut, “Pelangi indah di mata adikku yayaya.....” Ning pun menutup pintu dan meninggalkanku selama-lamanya, oops salah, akulah yang akan meninggalkan Ning untuk selamanya.
Rasa syukur tak terkira selalu ku ucapkan kepada Sang Pencipta yang telah mempertemukan aku dengan adikku yang kusayang, walaupun dengan sedikit kebohongan.
***
Waktu telah melambai padaku dan Malaikat Maut telah siap menjemputku. “Allahu Akbar...” DARRR...

sumber gambar : https://c1.staticflickr.com/9/8375/8419830329_cccfd70e61_b.jpg

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pramoedya Ananta Toer

      Puisi Pramoedya Ananta Toer PUISI UNTUK AYAH Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh (Gadis Pantai. hal. 269) Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah Pulang ke teduh matamu Berenang di kolam yang kau beri nama rindu Aku, ingin kembali Pulang menghitung buah mangga yang ranum di halaman Memetik tomat di belakang rumah nenek. Tapi jalanan yang jauh, cita-cita yang panjang tak mengizinkanku, Mereka selalu mengetuk daun pintu saat aku tertidur Menggaruk-garuk bantal saat aku bermimpi Aku ingin kembali ke rumah, Ayah Tapi nasib memanggilku Seekor kuda sembrani datang, menculikku dari alam mimpi Membawaku terbang melintasi waktu dan dimensi kata-kata Aku menyebut pulang, tapi ia selalu menolaknya Aku menyebut rumah, tapi ia bilang tak pernah ada rumah Aku sebut kampung halaman, ia bilang kampung halaman tak pernah ada Maka aku menungganginya Maka aku menungganginya Menyusuri hutan-hutan jati Melihat rumput-rum...

SAMINISME

                 

Media Menulis Teks Negosiasi