Mengenal Punakawan dalam Cerita Wayang Kulit
Sebelum
mengenal Punakawan, saya akan bercerita singkat mengenai sejarah wayang
kulit. Wayang adalah salah satu seni pertunjukan tradisional yang
paling luas penyebarannya di Indonesia hingga sekarang. Paling tidak
karena tersebar di pulau-pulau yang paling padat penduduknya seperti
Jawa, Madura, Bali, dan beberapa daerah lain di Sumatera. Dalam
batasannya, wayang merupakan agama kedua bagi masyarakat Jawa (pada
khususnya) karena memberikan nilai-nilai kehidupan seperti ajaran,
tuntunan dan tatanan nilai kultural baik melalui presentasi jalan cerita
maupun citra para tokoh. Ada dua pendapat mengenai asal-usul wayang.
Pertama, bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa,
tepatnya Jawa Timur. Pendapat ini selain dikemukakan oleh para peneliti
dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian
sarjana-sarjana barat (silahkan cari di Google ya..) seperti Hazeau,
Kruyt, Rentse, Kats, dan Brandes. Sementara itu, pendapat kedua menduga
wayang berasal dari India bersamaan dengan masuknya agama Hindu ke
Indonesia. Mereka antara lain Poensen, Rassers, Krom, Pischel, Goslings,
dan Hidding. Kelompok ini adalah sarjana Inggris, negara Eropa yang
menjajah India. Namun oleh ahli sejarah Belanda, Dr.GA.J. Hazeau dalam
disertasinya yang berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel
(1897) menunjukkan keyakinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli
Jawa. Menurut Dr. Hazeau pengertian wayang adalah walulang inukir
(kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir. Dengan demikian,
wayang yang dimaksud adalah wayang kulit yang seperti kita kenal
sekarang. Sejak tahun 1950, buku-buku pewayangan seolah sepakat bahwa
wayang memang berasal dari pulau Jawa dan sama sekali tidak diimpor dari
negara lain. Untuk lebih jelasnya tentang asal-usul wayang, silahkan
cari di perpustakaan-perpustakaan umum atau dengan Google ya hehehehe..
MENGENAL PUNAKAWAN
Budaya
wayang diperkirakan sudah ada sejak pemerintahan Prabu Airlangga, raja
Kahuripan (976–1012). Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang
ditulis oleh pujangga Indonesia sejak abad X. Antara lain, Kitab
Ramayana Kakawin* berbahasa Jawa Kuno yang merupakan
gubahan dari Kitab Ramayana karangan Walmiki, India. Kemudian Karya Empu
Kanwa, Arjunawiwaha Kakawin yang merupakan gubahan dari Kitab
Mahabharata yang didalamnya diceritakan kembali dengan memasukkan
falsafah Jawa.
Supaya semakin dikenal dan lebih menjawakan budaya wayang, sejak
zaman Kerajaan Majapahit diceritakan wayang lain tentang cerita leluhur
raja-raja Majapahit. Tradisi menjawakan cerita wayang ini kemudian
diteruskan oleh beberapa ulama Islam diantaranya oleh para Wali Songo.
Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad XV juga memberi pengaruh
besar terhadap budaya wayang terutama pada konsep religi.
Punakawan merupakan tokoh-tokoh dalam pewayangan yang berbentuk aneh
dan lucu, termasuk watak dan tingkah polahnya. Tokoh wayang ini tidak
ada dalam cerita wayang versi mitologi Hindu seperti Ramayana atau
Mahabharata. Secara umum, punakawan terdiri dari empat tokoh. Yaitu
Semar, Petruk, Nala Gareng, dan Bagong. Sekarang mari kita mengenal
lebih dekat dengan keempat tokoh Punakawan.
SEMAR
Banyak versi yang menyebutkan asal usul Semar. Namun hampir semuanya menyebut bahwa tokoh ini adalah jelmaan dewa. Menurut Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Dapat ditemukan di karya sastra yang berjudul Sudamala. Kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439.
Semar memiliki bentuk fisik yang unik dan menggambarkan jagad raya.
Tubuhnya yang bulat merupakan simbol bumi, tempat tinggal manusia dan
makhluk lainnya. Semar selalu tersenyum dengan mata sembab. Ini
merupakan simbol suka dan duka. Wajahnya tua namun gaya rambutnya
kuncung seperti anak kecil merupakan simbol tua dan muda. Semar
berkelamin laki-laki namun memiliki payudara, hal ini simbol dari pria
dan wanita. Sebagai jelmaan dewa yang hidup sebagai rakyat jelata,
sebagai simbol atasan dan bawahan.
Semar dikisahkan sebagai seorang abdi atau hamba tokoh utama dalam
cerita tersebut. Memiliki sifat yang sabar, tulus, pengasih, pemelihara
kebaikan, penjaga kebenaran, dan menghindari perbuatan-perbuatan jahat.
Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria.
Meskipun statusnya sebagai abdi, keluhurannya setara dengan Prabu Kresna
dalam kisah Mahabharata. Dalam pewayangan yang bertemakan Ramayana,
para dalang juga sering memasukkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri
Rama. Hal ini sesungguhnya adalah simbol belaka. Semar merupakan
gambaran perpaduan rakyat jelata dan dewa. Jadi apabila pemerintah yang
disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar mendengarkan suara
rakyat yang bagaikan suara Tuhan, maka negara akan tenteram dan sentosa.
Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam mulai
berkembang di pulau Jawa, tokoh Semar masih dipertahankan keberadaannya
bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala.
NALA GARENG
Dalam adaptasi bahasa Jawa, nama ini mengalami perubahan meskipun artinya sama. Nala artinya hati, Gareng atau garing artinya kering atau gering
(sakit.. bahasa Jawa) yang berarti menderita. Jadi artinya hati yang
menderita. Pada akhirnya masyarakat hanya menyebut Gareng saja karena
lebih sederhana. Wujud fisik Gareng merupakan sekumpulan simbol yang
menyiratkan sebuah makna. Mata juling, yang mengarah ke atas artinya
Gareng selalu memusatkan batinnya kepada Hyang Widhi dan yang kesamping
artinya hendaklah kita tidak melirik atau iri terhadap apa yang dimiliki
orang lain. Lengan bengkok melambangkan bahwa manusia tidak bisa
apa-apa bila tidak berada dalam kodrat Hyang Widhi dan melambangkan pula
tidak mau mengambil hak orang lain. Kaki pincang, jika berjalan sambil
jinjit artinya Gareng adalah orang yang selalu berhati-hati dalam
melangkah atau mengambil suatu keputusan. Keadaan fisik Gareng yang
tidak sempurna ini mengingatkan bahwa manusia harus berhati-hati dalam
menjalani kehidupannya. Mulut Gareng memiliki bentuk yang aneh dan lucu
melambangkan ia tidak pandai berbicara kadang belepotan. Bicara dan
sikapnya serba salah karena tidak percaya diri. Namun, Gareng memiliki
banyak teman baik di pihak kawan maupun lawan. Sehingga sangat
bermanfaat sebagai juru damai atau pembuka jalan untuk negosiasi.
Dalam suatu cerita, Gareng berwujud kesatria tampan bernama Bambang
Sukodadi dari padepokan Bluktiba. Gareng sangat sakti namun sombong,
sehingga selalu mengajak duel para kesatria yang ditemuinya. Suatu hari
saat telah menyelesaikan tapanya, ia bertemu dengan Bambang Panyukilan.
Singkat cerita mereka berkelahi. Tidak ada yang menang dan yang kalah
dalam perkelahian ini, bahkan wajah mereka berdua rusak. Kemudian
datanglah Semar (dalam wujud Batara Ismaya) yang melerai mereka.
PETRUK
Petruk memiliki nama lain Dawala. Dawa artinya panjang dan la /ala
artinya jelek. Sudah panjang, tampilan fisiknya jelek. Hidung, telinga,
mulut, kaki, dan tangannya panjang. Namun memiliki sifat yang tidak
diduga. Ia juga mempunyai nama lain Kanthong Bolong yang melambangkan
suka memberi walaupun ia sendiri kesusahan, watak yang tidak
mementingkan duniawi namun lebih mementingkan kerukunan dan saling
membantu kepada sesama. Wajah Petruk selalu tersenyum bahkan saat
berduka sekalipun selalu menampakkan wajah yang ramah dan murah senyum
dengan penuh ketulusan. Memiliki dada yang bidang yang berarti memiliki
jiwa yang besar dan sabar. Tangannya yang panjang melambangkan bahwa ia
suka berderma. Kaki panjangnya melambangkan memiliki jangkauan yang
panjang serta kecepatan dalam bertindak.
Menurut pedalangan, ia adalah anak pendeta raksasa di pertapaan dan
bertempat didalam laut bernawa Begawan Salantara. Sebelumnya ia bernama
Bambang Panyukilan. Ia senang bergurau baik ucapan maupun tingkahnya dan
suka berkelahi. Untuk menguji kekuatannya, ia memutuskan untuk
berkelana. Ditengah perjalanan dia bertemu Bambang Sukodadi (Gareng)
yang ingin mencoba kemampuannya setelah bertapa. Karena mempunyai maksud
yang sama maka merekapun berkelahi. Mereka berkelahi sangat lama,
saling menghantam, bergumul, menginjak-injak, tendang-menendang,
tarik-menarik hingga tubuh keduanya menjadi cacat dan berubahlah wujud
aslinya yang tampan. Perkelahian ini dipisah oleh Semar dan mereka
diberi nasehat sampai pada akhirnya berguru kepada Semar. Demikian
peristiwa ini diceritakan dalam lakon Batara Ismaya Krama.
BAGONG
Sebagai
Punakawan yang sifatnya menghibur, tokoh Bagong dilukiskan dengan
ciri-ciri fisik yang lucu. Tubuhnya bulat, matanya lebar, bibirnya tebal
dan terkesan memble. Gaya bicara Bagong juga semaunya sendiri.
Dibandingkan dengan ketiga Punakawan lainnya maka Bagong adalah sosok
yang paling lugu, teramat sederhana dan kurang mengerti tata krama.
Namun memiliki ketabahan hati yang luar biasa. Bagong yang bermuka lebar
melambangkan bahwa ia bukanlah seorang pemarah, sebaliknya ia tergolong
tokoh yang ramah. Bibirnya yang tebal melambangkan kejujuran jiwa.
Bagong memiliki sifat kekanak-kanakan, lucu, jarang bicara tetapi
sekali bicara membuat orang tertawa. Bagong merupakan pengritik tajam
dan keras bagi tokoh wayang lain yang bertindak tidak benar. Sisi
positif dari tokoh ini adalah sifat dasar yang jujur, namun sisi
negatifnya adalah merelakan diri bertampang jelek dan menjadi bahan
ejekan. Tingkat pengetahuan yang rendah ini pula yang menyebabkan tokoh
Bagong memiliki kebiasaan apa adanya dalam kehidupan. Apa yang diketahui
biasanya langsung disampaikan kepada orang lain tanpa memikirkan untung
ruginya. Kebiasaan demikian sering kali menimbulkan efek yang tidak
menguntungkan baik dari dirinya sendiri maupun orang lain. Namun
demikian, dengan keluguan, kesederhanaan dan kejujuran yang dimiliki,
Bagong selalu dapat dipercaya oleh saudara-saudaranya maupun majikannya.
- - -
Nah.. itulah sekelumit tentang Punakawan. Sekelumit? Iya memang
sedikit yang saya sampaikan karena tujuan saya adalah mengenalkan
Punakawan. Tokoh-tokoh wayang yang sebenarnya bukan hanya sebagai
pelengkap dalam sebuah pagelaran. Tokoh-tokoh ini selalu memberikan
petuah-petuah yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari tanpa
kita sadari. Walaupun bukan sebagai pertunjukan utama, keluarnya
Punakawan ini selalu dinanti karena melontarkan humor-humor yang segar
dan seringkali terkini. Jika Anda sering mengatakan, "aku cinta
Indonesia" atau "damn! I love Indonesia" sudah selayaknya Anda tahu
tentang budaya Anda. Untuk cerita selengkapnya yang benar-benar lengkap kap kap kap.. silahkan datangi toko buku atau perpustakaan terdekat di kota Anda.
* Kakawin adalah sebuah bentuk syair dalam bahasa Jawa Kuno dengan metrum (pola bahasa dalam sebuah baris puisi) yang berasal dari India
Mengupas Filosofi Punakawan
Banyak hal yang bisa kita ambil dari filosofi wayang. Secara tersirat
empat sosok Punakawan memiliki arti filosofis yang tinggi. Dalam
berbagai cerita di wayang, Punakawan adalah merupakan empat sosok yang
memiliki kesetiaan tinggi pada Bendaranya (tuannya). Mereka selalu
mengawal kemana pun tuannya pergi.
Sebelum kita membahas mengenai sosok Punakawan, terlebih dulu kita kupas
arti dari Punakawan. Kata Punakawan juga bisa disebut Panakawan.
Panakawan terdiri dari kata Pana = Memahami; Kawan: Teman. Teman dalam
hal ini yang dimaksud adalah teman hidup yang senantiasa mendampingi
kita. Secara tersirat, keempat sosok Punakawan itu merupakan gambaran
dari pemahaman Kawruh Kejawen, Sedulur Papat, Lima Pancer.
Keempat sosok Punakawan tersebut sangat terkenal, mereka antara lain
Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Mereka digambarkan sangat setia
mengawal kemana pun ksatria yang menjadi tuannya pergi. Tuan dari
Panakawan yang sering dikawal adalah Arjuna. Umumnya, para Panakawan
mengiringi kemana pun Arjuna pergi untuk melakukan tapa brata.
Pertanyaan yang muncul, jika Punakawan/Panakawan digambarkan sebagai
Sedulur Papat, lalu siapa makna filosofis bagi ksatria (Arjuna) yang
dikawal Punakawan itu? Simbolisasi ksatria adalah diri manusia itu
sendiri yang juga disebut Pancer.
Posisi pancer berada di tengah, diapit oleh dua saudara tua (kakang
mbarep, kakang kawah) dan dua saudara muda (adi ari-ari dan adi
wuragil). Ngelmu sedulur papat lima pancer lahir dari konsep penyadaran
akan awal mula manusia diciptakan dan tujuan akhir hidup manusia
(sangkan paraning dumadi). Awal mula manusia hidup diawali dari
saat-saat menjelang kelahiran. Sebelum sang bayi (pancer) lahir dari
rahim ibu, yang muncul pertama kali adalah rasa cemas si ibu. Rasa cemas
itu dinamakan Kakang mbarep. Kemudian pada saat menjelang bayi itu
lahir, keluarlah cairan bening atau banyu kawah sebagai pelicin untuk
melindungi si bayi, agar proses kelahiran lancar dan kulit bayi yang
lembut tidak lecet atau terluka. Banyu kawah itu disebut Kakang kawah.
Setelah bayi lahir akan disusul dengan keluarnya ari-ari dan darah.
Ari-ari disebut Adi ari-ari dan darah disebut Adi wuragil. Ngelmu
sedulur papat lima pancer memberi tekanan bahwa, manusia dilahirkan ke
dunia ini tidak sendirian. Ada empat saudara yang mendampingi. Seperti
halnya pada agama Islam yang juga dinyatakan di Al Qur'an bahwa "Pada
setiap manusia ada penjaga-penjaganya".
Pancer adalah suksma sejati dan sedulur papat adalah raga sejati.
Bersatunya suksma sejati dan raga sejati melahirkan sebuah kehidupan.
Hubungan antara pancer dan sedulur papat dalam kehidupan, digambarkan
dengan seorang sais yang mengendalikan sebuah kereta, ditarik oleh empat
ekor kuda, yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih. Sais kereta
melambangkan kebebasan untuk memutuskan dan berbuat sesuatu. Kuda merah
melambangkan energi, semangat, kuda hitam melambangkan kebutuhan
biologis, kuda kuning melambangkan kebutuhan rohani dan kuda putih
melambangkan keheningan, kesucian. Sebagai sais, tentunya tidak mudah
mengendalikan empat kuda yang saling berbeda sifat dan kebutuhannya.
Jika sang sais mampu mengendalikan dan bekerjasama dengan ke empat ekor
kudanya dengan baik dan seimbang, maka kereta akan berjalan lancar
sampai ke tujuan akhir, Paraning Dumadi.
Dhandhanggula
1. Ana kidung akadang premati, among tuwuh ing kawastanira,
nganakaken saciptane, kakang kawah puniku, kang rumeksa ing awak mami,
anekakaken sedya, pan kuwasanipun, adhi ari-ari ika, kang mayungi ing
laku kuwasaneki, ngenakaken pengarah.
2. Ponang getih ing rahina wengi, angrowangi Allah kang kuwasa
andadekaken karsane, puser kuwasanipun, nguyu-uyu sembawa mami, nuruti
ing panendha, kuwasanireku, jangkep kadangingsun papat, kalimane pancer
wus sawiji, nunggul sawujud ingwang.
3. Yeku kadangingsun kang umijil, saking margaina sareng samya sadina
awor enggone, sekawan kadangingsun, dadiya makdumsarpin sira,
wawayangan ing dat reke dadiya kanthi, saparan datan pisah.(*)
Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya
Semar Badranaya, Nala Gareng, Petruk Kanthong Bolong, dan Bagong
merupakan tokoh pewayangan yang sangat terkenal meskipun generasi muda
sekarang tidak banyak mengenalnya. Hal ini menunjukkan lunturnya budaya
bangsa di tengah kemajuan jaman dan globalisasi. Tokoh-tokoh punakawan
memiliki karakter tersendiri yang seharusnya dapat menjadi model belajar
karakter bagi dalam menjalani kehidupan kita bila memahaminya.
Punakawan memiliki bentuk masing-masing yang menggambarkan
karakter-karakter. Berikut akan diuraikan secara ringkas karakter Semar
Badranaya, Nala Gareng, Petruk Kanthong Bolong, dan Bagong
Semar Badranaya. Semar bentuknya samar-samar dan
mukanya pucat. Karakter yang disimbolkan oleh wujud semar adalah
kesederhanaan, kejujuran, mengasihi sesama, rendah hati, tidak terlalu
bersedih ketika mengalami kesulitan, dan tidak terlalu senang ketika
mengalami kebahagiaan (Achmad, 2012). Kesederhanaan sangat sulit
ditemui di masa sekarang, banyak orang hidup tujuan utamanya adalah
material, makin banyak material yang didapatkan atau makin kaya maka
makin merasa hidupnya sukses dan bahagia. Namun ukuran kebahagiaan tidak
selalu ditentukan oleh materi, kesederhanaan dalam menjalani hidup
lebih diutamakan. Dengan kesederhanaan kita bisa merasakan berbagi
dengan orang lain, kita bisa merasakan nikmat yang diberikan Tuhan
kepada kita, dengan kesederhanaan mampu membuat kita tidak hidup selalu
dengan tuntutan harus lebih dari yang sekarang didapatkan secara materi
dan tidak berat meninggalkan materi dunia ketika tiba waktunya meninggal
(Yuwanto, 2012).
Semar dalam pewayangan menjadi rujukan para kesatria
untuk meminta nasihat dan menjadi tokoh yang dihormati. Namun karakter
tetap rendah hati, tidak sombong, jujur, dan tetap mengasihi sesame
dapat menjadi contoh karakter yang baik. Penuh kelebihan tetapi tidak
lupa diri karena kelebihan yang dimiliki.
Tokoh semar mengingatkan bahwa ketika kita mengalami kesedihan kita
akan terus bersedih secara mendalam, maka kita tidak akan pernah
berpikiran bahwa kesedihan akan berakhir, tidak ada usaha untuk
mengatasi kesedihan, sehingga akhirnya terlambat untuk menyadari bahwa
kita sudah terlalu lama menangisi kesedihan tanpa melakukan apa-apa.
Saat mengalami kebahagiaan, kita sangat bahagia sehingga tidak waspada
atau lupa bahwa suatu saat kita akan mengalami kesusahan, dan kita tidak
mempersiapkan diri untuk menghadapi kesesuahan sehingga saat mengalami
kesusahan kita merasa bahwa menjadi orang paling susah, dan mengalami
nasib buruk.
Nala Gareng. Nala gareng merupakan tokoh punakawan
yang memiliki ketidaklengkapan bagian tubuh. Nala gareng mengalami cacat
kaki, cacat tangan, dan mata. Karakter yang disimbolkan adalah cacat
kaki menggambarkan manusia harus berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
Tangan yang cacat menggambarkan manusia bisa berusaha tetapi Tuhan yang
menentukan hasil akhirnya. Mata yang cacat menunjukkan manusia harus
memahami realitas kehidupan (Achmad, 2012). Secara keseluruhan dapat
disimpulkan bahwa Nala Gareng menyimbolkan karakter hidup prihatin dalam
menjalani kehidupan baik senang maupun duka, dan selalu berhati-hati
dalam berperilaku.
Petruk Kanthong Bolong. Tokoh petruk digambarkan
dengan bentuk panjang yang menyimbolkan pemikiran harus panjang. Nama
Kanthong Bolong menunjukkan kesabaran yang dalam (Achmad, 2012). Dalam
menjalani hidup manusia harus berpikir panjang (tidak grusa-grusu) dan
sabar. Bila tidak berpikir panjang, biasanya akan mengalami penyesalan
di akhir. Konsep psikologi kognitif menjelaskan bahwa saat mengalami
masalah, manusia akan membuat suatu keputusan untuk penyelesaian
masalah. Saat berpikir panjang digambarkan dengan membuat berbagai
alternatif penyelesaian masalah dengan perhitungan kelebihan dan
kekurangannya. Dengan adanya alternatif penyelesaian masalah manusia
bisa mengambil keputusan yang tepat (Yuwanto, 2012). Sabar,
menggambarkan penerimaan terhadap apa yang sudah digariskan Tuhan
setelah manusia berusaha, bukan hanya sekadar pasrah menerima tanpa
usaha. Istilah jawa nerimo ing pandum sering diartikan bahwa pasrah
menerima tanpa usaha. Arti ini keliru, nerimo ing pandum artinya
menerima apapun hasil dari usaha yang telah dilakukan karena manusia
hanya bisa berusaha dan berdoa tetapi Tuhan yang menentukan akhirnya.
Bagong. Bentuknya mirip semar tetapi hitam gelap
sehingga disebut sebagai bayangan semar. Karakter yang disimbolkan dari
bentuk bagong adalah manusia harus sederhana, sabar, dan tidak terlalu
kagum pada kehidupan di dunia (Achmad, 2012). Makna mendalam dari
karakter Bagong adalah tidak terlalu kagum dengan kehidupan dunia. Saat
ini kehidupan manusia termasuk di Indonesia mulai bergeser dari
kehidupan kolektivisme dan relationisme menjadi individualism yang
sangat khas materialismenya. Kehidupan dunia dengan harta dan jabatan
menjadi target utama yang harus dicapai. Karakter Bagong dapat menjadi
model bahwa kehidupan dunia tidak abadi. Manusia harus selalu belajar
dari bayangannya yang memiliki makna manusia harus selalu introspeksi
diri dengan kekurangan atau kejelekan diri sendiri untuk memperbaiki
perilaku yang lebih baik. Bukannya selalu melihat kejelekan orang lain
tanpa melihat kekurangan diri sendiri sehingga diri menjadi sombong.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.
Referensi :
Achmad, S. W. (2012). Wisdom van Java : Mendedah nilai-nilai kearifan Jawa. Bantul, Yogyakarta : IN AzNa Books.
Yuwanto, L. (2012). Pengungsi Merapi dan Etika Hidup Orang Jawa. Dalam
Untaian bunga-bunga kesadaran dan butir-butir mutiara pencerahan :
Kumpulan Catatan Reflektif Kami di Merapi (L. Yuwanto & K. Batuadji,
Eds.) (pp 74-81). Jakarta : Dwiputra Pustaka Jaya.Punakawan - Simbol Kerendahan Hati Orang Jawa, Ardian Kresna, Des 2012, Penerbit Narasi
http://id.wikipedia.org
http://www.mahardhika.net/artikel-210-mengenal-punakawan-dalam-cerita-wayang-kulit
http://kawruh-kejawen.blogspot.com/2012/08/mengupas-filosofi-punakawan.html

Komentar
Posting Komentar