Langsung ke konten utama

PUNAKAWAN

Mengenal Punakawan dalam Cerita Wayang Kulit

mengenal-punakawan-dalam-cerita-wayang-kulit

Sebelum mengenal Punakawan, saya akan bercerita singkat mengenai sejarah wayang kulit. Wayang adalah salah satu seni pertunjukan tradisional yang paling luas penyebarannya di Indonesia hingga sekarang. Paling tidak karena tersebar di pulau-pulau yang paling padat penduduknya seperti Jawa, Madura, Bali, dan beberapa daerah lain di Sumatera. Dalam batasannya, wayang merupakan agama kedua bagi masyarakat Jawa (pada khususnya) karena memberikan nilai-nilai kehidupan seperti ajaran, tuntunan dan tatanan nilai kultural baik melalui presentasi jalan cerita maupun citra para tokoh. Ada dua pendapat mengenai asal-usul wayang. Pertama, bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya Jawa Timur. Pendapat ini selain dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana-sarjana barat (silahkan cari di Google ya..) seperti Hazeau, Kruyt, Rentse, Kats, dan Brandes. Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India bersamaan dengan masuknya agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain Poensen, Rassers, Krom, Pischel, Goslings, dan Hidding. Kelompok ini adalah sarjana Inggris, negara Eropa yang menjajah India. Namun oleh ahli sejarah Belanda, Dr.GA.J. Hazeau dalam disertasinya yang berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897) menunjukkan keyakinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Menurut Dr. Hazeau pengertian wayang adalah walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir. Dengan demikian, wayang yang dimaksud adalah wayang kulit yang seperti kita kenal sekarang. Sejak tahun 1950, buku-buku pewayangan seolah sepakat bahwa wayang memang berasal dari pulau Jawa dan sama sekali tidak diimpor dari negara lain. Untuk lebih jelasnya tentang asal-usul wayang, silahkan cari di perpustakaan-perpustakaan umum atau dengan Google ya hehehehe..


MENGENAL PUNAKAWAN
Budaya wayang diperkirakan sudah ada sejak pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976–1012). Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang ditulis oleh pujangga Indonesia sejak abad X. Antara lain, Kitab Ramayana Kakawin* berbahasa Jawa Kuno yang merupakan gubahan dari Kitab Ramayana karangan Walmiki, India. Kemudian Karya Empu Kanwa, Arjunawiwaha Kakawin yang merupakan gubahan dari Kitab Mahabharata yang didalamnya diceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa.
Supaya semakin dikenal dan lebih menjawakan budaya wayang, sejak zaman Kerajaan Majapahit diceritakan wayang lain tentang cerita leluhur raja-raja Majapahit. Tradisi menjawakan cerita wayang ini kemudian diteruskan oleh beberapa ulama Islam diantaranya oleh para Wali Songo. Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad XV juga memberi pengaruh besar terhadap budaya wayang terutama pada konsep religi.
Punakawan merupakan tokoh-tokoh dalam pewayangan yang berbentuk aneh dan lucu, termasuk watak dan tingkah polahnya. Tokoh wayang ini tidak ada dalam cerita wayang versi mitologi Hindu seperti Ramayana atau Mahabharata. Secara umum, punakawan terdiri dari empat tokoh. Yaitu Semar, Petruk, Nala Gareng, dan Bagong. Sekarang mari kita mengenal lebih dekat dengan keempat tokoh Punakawan.

SEMAR
Semar
Banyak versi yang menyebutkan asal usul Semar. Namun hampir semuanya menyebut bahwa tokoh ini adalah jelmaan dewa. Menurut Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Dapat ditemukan di karya sastra yang berjudul Sudamala. Kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam  Candi Sukuh yang berangka tahun 1439.
Semar memiliki bentuk fisik yang unik dan menggambarkan jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol bumi, tempat tinggal manusia dan makhluk lainnya. Semar selalu tersenyum dengan mata sembab. Ini merupakan simbol suka dan duka. Wajahnya tua namun gaya rambutnya kuncung seperti anak kecil merupakan simbol tua dan muda. Semar berkelamin laki-laki namun memiliki payudara, hal ini simbol dari pria dan wanita. Sebagai jelmaan dewa yang hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan.
Semar dikisahkan sebagai seorang abdi atau hamba tokoh utama dalam cerita tersebut. Memiliki sifat yang sabar, tulus, pengasih, pemelihara kebaikan, penjaga kebenaran, dan menghindari perbuatan-perbuatan jahat. Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria. Meskipun statusnya sebagai abdi, keluhurannya setara dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Dalam pewayangan yang bertemakan Ramayana, para dalang juga sering memasukkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama. Hal ini sesungguhnya adalah simbol belaka. Semar merupakan gambaran  perpaduan rakyat jelata dan dewa. Jadi apabila pemerintah yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar mendengarkan suara rakyat yang bagaikan suara Tuhan, maka negara akan tenteram dan sentosa.
Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam mulai berkembang di pulau Jawa, tokoh Semar masih dipertahankan keberadaannya bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala.

NALA GARENG
Gareng
Dalam adaptasi bahasa Jawa, nama ini mengalami perubahan meskipun artinya sama. Nala artinya hati, Gareng atau garing artinya kering atau gering (sakit.. bahasa Jawa) yang berarti menderita. Jadi artinya hati yang menderita. Pada akhirnya masyarakat hanya menyebut Gareng saja karena lebih sederhana. Wujud fisik Gareng merupakan sekumpulan simbol yang menyiratkan sebuah makna. Mata juling, yang mengarah ke atas artinya Gareng selalu memusatkan batinnya kepada Hyang Widhi dan yang kesamping artinya hendaklah kita tidak melirik atau iri terhadap apa yang dimiliki orang lain. Lengan bengkok melambangkan bahwa manusia tidak bisa apa-apa bila tidak berada dalam kodrat Hyang Widhi dan melambangkan pula tidak mau mengambil hak orang lain. Kaki pincang, jika berjalan sambil jinjit artinya Gareng adalah orang yang selalu berhati-hati dalam melangkah atau mengambil suatu keputusan. Keadaan fisik Gareng yang tidak sempurna ini mengingatkan bahwa manusia harus berhati-hati dalam menjalani kehidupannya. Mulut Gareng memiliki bentuk yang aneh dan lucu melambangkan ia tidak pandai berbicara kadang belepotan. Bicara dan sikapnya serba salah karena tidak percaya diri. Namun, Gareng memiliki banyak teman baik di pihak kawan maupun lawan. Sehingga sangat bermanfaat sebagai juru damai atau pembuka jalan untuk negosiasi.
Dalam suatu cerita, Gareng berwujud kesatria tampan bernama Bambang Sukodadi dari padepokan Bluktiba. Gareng sangat sakti namun sombong, sehingga selalu mengajak duel para kesatria yang ditemuinya. Suatu hari saat telah menyelesaikan tapanya, ia bertemu dengan Bambang Panyukilan. Singkat cerita mereka berkelahi. Tidak ada yang menang dan yang kalah dalam perkelahian ini, bahkan wajah mereka berdua rusak. Kemudian datanglah Semar (dalam wujud Batara Ismaya) yang melerai mereka.

PETRUK
Petruk
Petruk memiliki nama lain Dawala. Dawa artinya panjang dan la /ala artinya jelek. Sudah panjang, tampilan fisiknya jelek. Hidung, telinga, mulut, kaki, dan tangannya panjang. Namun memiliki sifat yang tidak diduga. Ia juga mempunyai nama lain Kanthong Bolong yang melambangkan suka memberi walaupun ia sendiri kesusahan, watak yang tidak mementingkan duniawi namun lebih mementingkan kerukunan dan saling membantu kepada sesama. Wajah Petruk selalu tersenyum bahkan saat berduka sekalipun selalu menampakkan wajah yang ramah dan murah senyum dengan penuh ketulusan. Memiliki dada yang bidang yang berarti memiliki jiwa yang besar dan sabar. Tangannya yang panjang melambangkan bahwa ia suka berderma. Kaki panjangnya melambangkan memiliki jangkauan yang panjang serta kecepatan dalam bertindak.
Menurut pedalangan, ia adalah anak pendeta raksasa di pertapaan dan bertempat didalam laut bernawa Begawan Salantara. Sebelumnya ia bernama Bambang Panyukilan. Ia senang bergurau baik ucapan maupun tingkahnya dan suka berkelahi. Untuk menguji kekuatannya, ia memutuskan untuk berkelana. Ditengah perjalanan dia bertemu Bambang Sukodadi (Gareng) yang ingin mencoba kemampuannya setelah bertapa. Karena mempunyai maksud yang sama maka merekapun berkelahi. Mereka berkelahi sangat lama, saling menghantam, bergumul, menginjak-injak, tendang-menendang, tarik-menarik hingga tubuh keduanya menjadi cacat dan berubahlah wujud aslinya yang tampan. Perkelahian ini dipisah oleh Semar dan mereka diberi nasehat sampai pada akhirnya berguru kepada Semar. Demikian peristiwa ini diceritakan dalam lakon Batara Ismaya Krama.

BAGONG
Bagong
Sebagai Punakawan yang sifatnya menghibur, tokoh Bagong dilukiskan dengan ciri-ciri fisik yang lucu. Tubuhnya bulat, matanya lebar, bibirnya tebal dan terkesan memble. Gaya bicara Bagong juga semaunya sendiri. Dibandingkan dengan ketiga Punakawan lainnya maka Bagong adalah sosok yang paling lugu, teramat sederhana dan kurang mengerti tata krama. Namun memiliki ketabahan hati yang luar biasa. Bagong yang bermuka lebar melambangkan bahwa ia bukanlah seorang pemarah, sebaliknya ia tergolong tokoh yang ramah. Bibirnya yang tebal melambangkan kejujuran jiwa.
Bagong memiliki sifat kekanak-kanakan, lucu, jarang bicara tetapi sekali bicara membuat orang tertawa. Bagong merupakan pengritik tajam dan keras bagi tokoh wayang lain yang bertindak tidak benar. Sisi positif dari tokoh ini adalah sifat dasar yang jujur, namun sisi negatifnya adalah merelakan diri bertampang jelek dan menjadi bahan ejekan. Tingkat pengetahuan yang rendah ini pula yang menyebabkan tokoh Bagong memiliki kebiasaan apa adanya dalam kehidupan. Apa yang diketahui biasanya langsung disampaikan kepada orang lain tanpa memikirkan untung ruginya. Kebiasaan demikian sering kali menimbulkan efek yang tidak menguntungkan baik dari dirinya sendiri maupun orang lain. Namun demikian, dengan keluguan, kesederhanaan dan kejujuran yang dimiliki, Bagong selalu dapat dipercaya oleh saudara-saudaranya maupun majikannya.

- - -
Nah.. itulah sekelumit tentang Punakawan. Sekelumit? Iya memang sedikit yang saya sampaikan karena tujuan saya adalah mengenalkan Punakawan. Tokoh-tokoh wayang yang sebenarnya bukan hanya sebagai pelengkap dalam sebuah pagelaran. Tokoh-tokoh ini selalu memberikan petuah-petuah yang sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari tanpa kita sadari. Walaupun bukan sebagai pertunjukan utama, keluarnya Punakawan ini selalu dinanti karena melontarkan humor-humor yang segar dan seringkali terkini. Jika Anda sering mengatakan, "aku cinta Indonesia" atau "damn! I love Indonesia" sudah selayaknya Anda tahu tentang budaya Anda. Untuk cerita selengkapnya yang benar-benar lengkap kap kap kap..  silahkan datangi toko buku atau perpustakaan  terdekat di kota Anda.

* Kakawin adalah sebuah bentuk syair dalam bahasa Jawa Kuno dengan metrum (pola bahasa dalam sebuah baris puisi) yang berasal dari India

Mengupas Filosofi Punakawan

Banyak hal yang bisa kita ambil dari filosofi wayang. Secara tersirat empat sosok Punakawan memiliki arti filosofis yang tinggi. Dalam berbagai cerita di wayang, Punakawan adalah merupakan empat sosok yang memiliki kesetiaan tinggi pada Bendaranya (tuannya). Mereka selalu mengawal kemana pun tuannya pergi.

Sebelum kita membahas mengenai sosok Punakawan, terlebih dulu kita kupas arti dari Punakawan. Kata Punakawan juga bisa disebut Panakawan. Panakawan terdiri dari kata Pana = Memahami; Kawan: Teman. Teman dalam hal ini yang dimaksud adalah teman hidup yang senantiasa mendampingi kita. Secara tersirat, keempat sosok Punakawan itu merupakan gambaran dari pemahaman Kawruh Kejawen, Sedulur Papat, Lima Pancer. 

Keempat sosok Punakawan tersebut sangat terkenal, mereka antara lain Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Mereka digambarkan sangat setia mengawal kemana pun ksatria yang menjadi tuannya pergi. Tuan dari Panakawan yang sering dikawal adalah Arjuna. Umumnya, para Panakawan mengiringi kemana pun Arjuna pergi untuk melakukan tapa brata.

Pertanyaan yang muncul, jika Punakawan/Panakawan digambarkan sebagai Sedulur Papat, lalu siapa makna filosofis bagi ksatria (Arjuna) yang dikawal Punakawan itu? Simbolisasi ksatria adalah diri manusia itu sendiri yang juga disebut Pancer.

Posisi pancer berada di tengah, diapit oleh dua saudara tua (kakang mbarep, kakang kawah) dan dua saudara muda (adi ari-ari dan adi wuragil). Ngelmu sedulur papat lima pancer lahir dari konsep penyadaran akan awal mula manusia diciptakan dan tujuan akhir hidup manusia (sangkan paraning dumadi). Awal mula manusia hidup diawali dari saat-saat menjelang kelahiran. Sebelum sang bayi (pancer) lahir dari rahim ibu, yang muncul pertama kali adalah rasa cemas si ibu. Rasa cemas itu dinamakan Kakang mbarep. Kemudian pada saat menjelang bayi itu lahir, keluarlah cairan bening atau banyu kawah sebagai pelicin untuk melindungi si bayi, agar proses kelahiran lancar dan kulit bayi yang lembut tidak lecet atau terluka. Banyu kawah itu disebut Kakang kawah.

Setelah bayi lahir akan disusul dengan keluarnya ari-ari dan darah. Ari-ari disebut Adi ari-ari dan darah disebut Adi wuragil. Ngelmu sedulur papat lima pancer memberi tekanan bahwa, manusia dilahirkan ke dunia ini tidak sendirian. Ada empat saudara yang mendampingi. Seperti halnya pada agama Islam yang juga dinyatakan di Al Qur'an bahwa "Pada setiap manusia ada penjaga-penjaganya".

Pancer adalah suksma sejati dan sedulur papat adalah raga sejati. Bersatunya suksma sejati dan raga sejati melahirkan sebuah kehidupan. Hubungan antara pancer dan sedulur papat dalam kehidupan, digambarkan dengan seorang sais yang mengendalikan sebuah kereta, ditarik oleh empat ekor kuda, yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih. Sais kereta melambangkan kebebasan untuk memutuskan dan berbuat sesuatu. Kuda merah melambangkan energi, semangat, kuda hitam melambangkan kebutuhan biologis, kuda kuning melambangkan kebutuhan rohani dan kuda putih melambangkan keheningan, kesucian. Sebagai sais, tentunya tidak mudah mengendalikan empat kuda yang saling berbeda sifat dan kebutuhannya. Jika sang sais mampu mengendalikan dan bekerjasama dengan ke empat ekor kudanya dengan baik dan seimbang, maka kereta akan berjalan lancar sampai ke tujuan akhir, Paraning Dumadi.

Dhandhanggula

1. Ana kidung akadang premati, among tuwuh ing kawastanira, nganakaken saciptane, kakang kawah puniku, kang rumeksa ing awak mami, anekakaken sedya, pan kuwasanipun, adhi ari-ari ika, kang mayungi ing laku kuwasaneki, ngenakaken pengarah.

2. Ponang getih ing rahina wengi, angrowangi Allah kang kuwasa andadekaken karsane, puser kuwasanipun, nguyu-uyu sembawa mami, nuruti ing panendha, kuwasanireku, jangkep kadangingsun papat, kalimane pancer wus sawiji, nunggul sawujud ingwang. 

3. Yeku kadangingsun kang umijil, saking margaina sareng samya sadina awor enggone, sekawan kadangingsun, dadiya makdumsarpin sira, wawayangan ing dat reke dadiya kanthi, saparan datan pisah.(*)
Listyo Yuwanto
Fakultas Psikologi Universitas Surabaya


    Semar Badranaya, Nala Gareng, Petruk Kanthong Bolong, dan Bagong merupakan tokoh pewayangan yang sangat terkenal meskipun generasi muda sekarang tidak banyak mengenalnya. Hal ini menunjukkan lunturnya budaya bangsa di tengah kemajuan jaman dan globalisasi. Tokoh-tokoh punakawan memiliki karakter tersendiri yang seharusnya dapat menjadi model belajar karakter bagi dalam menjalani kehidupan kita bila memahaminya. Punakawan memiliki bentuk masing-masing yang menggambarkan karakter-karakter. Berikut akan diuraikan secara ringkas karakter Semar Badranaya, Nala Gareng, Petruk Kanthong Bolong, dan Bagong
Semar Badranaya. Semar bentuknya samar-samar dan mukanya pucat. Karakter yang disimbolkan oleh wujud semar adalah kesederhanaan, kejujuran, mengasihi sesama, rendah hati, tidak terlalu bersedih ketika mengalami kesulitan, dan tidak terlalu senang ketika mengalami kebahagiaan (Achmad, 2012).  Kesederhanaan sangat sulit ditemui di masa sekarang, banyak orang hidup tujuan utamanya adalah material, makin banyak material yang didapatkan atau makin kaya maka makin merasa hidupnya sukses dan bahagia. Namun ukuran kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh materi, kesederhanaan dalam menjalani hidup lebih diutamakan. Dengan kesederhanaan kita bisa merasakan berbagi dengan orang lain, kita bisa merasakan nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita, dengan kesederhanaan mampu membuat kita tidak hidup selalu dengan tuntutan harus lebih dari yang sekarang didapatkan secara materi dan tidak berat meninggalkan materi dunia ketika tiba waktunya meninggal (Yuwanto, 2012).
Semar dalam pewayangan menjadi rujukan para kesatria untuk meminta nasihat dan menjadi tokoh yang dihormati. Namun karakter tetap rendah hati, tidak sombong, jujur, dan tetap mengasihi sesame dapat menjadi contoh karakter yang baik. Penuh kelebihan tetapi tidak lupa diri karena kelebihan yang dimiliki.
Tokoh semar mengingatkan bahwa ketika kita mengalami kesedihan kita akan terus bersedih secara mendalam, maka kita tidak akan pernah berpikiran bahwa kesedihan akan berakhir, tidak ada usaha untuk mengatasi kesedihan, sehingga akhirnya terlambat untuk menyadari bahwa kita sudah terlalu lama menangisi kesedihan tanpa melakukan apa-apa. Saat mengalami kebahagiaan, kita sangat bahagia sehingga tidak waspada atau lupa bahwa suatu saat kita akan mengalami kesusahan, dan kita tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi kesesuahan sehingga saat mengalami kesusahan kita merasa bahwa menjadi orang paling susah, dan mengalami nasib buruk.
Nala Gareng. Nala gareng merupakan tokoh punakawan yang memiliki ketidaklengkapan bagian tubuh. Nala gareng mengalami cacat kaki, cacat tangan, dan mata. Karakter yang disimbolkan adalah cacat kaki menggambarkan manusia harus berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Tangan yang cacat menggambarkan manusia bisa berusaha tetapi Tuhan yang menentukan hasil akhirnya. Mata yang cacat menunjukkan manusia harus memahami realitas kehidupan (Achmad, 2012). Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa Nala Gareng menyimbolkan karakter hidup prihatin dalam menjalani kehidupan baik senang maupun duka, dan selalu berhati-hati dalam berperilaku.

Petruk Kanthong Bolong. Tokoh petruk digambarkan dengan bentuk panjang yang menyimbolkan pemikiran harus panjang. Nama Kanthong Bolong menunjukkan kesabaran yang dalam (Achmad, 2012). Dalam menjalani hidup manusia harus berpikir panjang (tidak grusa-grusu) dan sabar. Bila tidak berpikir panjang, biasanya akan mengalami penyesalan di akhir. Konsep psikologi kognitif menjelaskan bahwa saat mengalami masalah, manusia akan membuat suatu keputusan untuk penyelesaian masalah. Saat berpikir panjang digambarkan dengan membuat berbagai alternatif penyelesaian masalah dengan perhitungan kelebihan dan kekurangannya. Dengan adanya alternatif penyelesaian masalah manusia bisa mengambil keputusan yang tepat (Yuwanto, 2012). Sabar, menggambarkan penerimaan terhadap apa yang sudah digariskan Tuhan setelah manusia berusaha, bukan hanya sekadar pasrah menerima tanpa usaha. Istilah jawa nerimo ing pandum sering diartikan bahwa pasrah menerima tanpa usaha. Arti ini keliru, nerimo ing pandum artinya menerima apapun hasil dari usaha yang telah dilakukan karena manusia hanya bisa berusaha dan berdoa tetapi Tuhan yang menentukan akhirnya.
Bagong. Bentuknya mirip semar tetapi hitam gelap sehingga disebut sebagai bayangan semar. Karakter yang disimbolkan dari bentuk bagong adalah manusia harus sederhana, sabar, dan tidak terlalu kagum pada kehidupan di dunia (Achmad, 2012). Makna mendalam dari karakter Bagong adalah tidak terlalu kagum dengan kehidupan dunia. Saat ini kehidupan manusia termasuk di Indonesia mulai bergeser dari kehidupan kolektivisme dan relationisme menjadi individualism yang sangat khas materialismenya. Kehidupan dunia dengan harta dan jabatan menjadi target utama yang harus dicapai. Karakter Bagong dapat menjadi model bahwa kehidupan dunia tidak abadi. Manusia harus selalu belajar dari bayangannya yang memiliki makna manusia harus selalu introspeksi diri dengan kekurangan atau kejelekan diri sendiri untuk memperbaiki perilaku yang lebih baik. Bukannya selalu melihat kejelekan orang lain tanpa melihat kekurangan diri sendiri sehingga diri menjadi sombong.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Referensi :
Achmad, S. W. (2012). Wisdom van Java : Mendedah nilai-nilai kearifan Jawa. Bantul,  Yogyakarta :  IN AzNa Books.
Yuwanto, L. (2012). Pengungsi Merapi dan Etika Hidup Orang Jawa. Dalam Untaian bunga-bunga kesadaran dan butir-butir mutiara pencerahan : Kumpulan Catatan Reflektif Kami di Merapi (L. Yuwanto & K. Batuadji, Eds.) (pp 74-81). Jakarta : Dwiputra Pustaka Jaya.Punakawan - Simbol Kerendahan Hati Orang Jawa, Ardian Kresna, Des 2012, Penerbit Narasi
http://id.wikipedia.org
http://www.mahardhika.net/artikel-210-mengenal-punakawan-dalam-cerita-wayang-kulit
http://kawruh-kejawen.blogspot.com/2012/08/mengupas-filosofi-punakawan.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pramoedya Ananta Toer

      Puisi Pramoedya Ananta Toer PUISI UNTUK AYAH Tidak, Bapak, aku tak akan kembali ke kampung. Aku mau pergi yang jauh (Gadis Pantai. hal. 269) Sebenarnya, aku ingin kembali, Ayah Pulang ke teduh matamu Berenang di kolam yang kau beri nama rindu Aku, ingin kembali Pulang menghitung buah mangga yang ranum di halaman Memetik tomat di belakang rumah nenek. Tapi jalanan yang jauh, cita-cita yang panjang tak mengizinkanku, Mereka selalu mengetuk daun pintu saat aku tertidur Menggaruk-garuk bantal saat aku bermimpi Aku ingin kembali ke rumah, Ayah Tapi nasib memanggilku Seekor kuda sembrani datang, menculikku dari alam mimpi Membawaku terbang melintasi waktu dan dimensi kata-kata Aku menyebut pulang, tapi ia selalu menolaknya Aku menyebut rumah, tapi ia bilang tak pernah ada rumah Aku sebut kampung halaman, ia bilang kampung halaman tak pernah ada Maka aku menungganginya Maka aku menungganginya Menyusuri hutan-hutan jati Melihat rumput-rum...

SAMINISME

                 

Media Menulis Teks Negosiasi